Adakalanya situasi itu diluar dari yang di ekspektasikan dan juga lagi-lagi ini menimbulkan sengketa. Sengketa yang timbul karna terlalu banyak berharap dari perencanaan. tidak semua orang tau akan masa depan dari kesehatan hingga keuangan, dari cinta hingga daya jiwa. Semua memang belum jelas, semua memang hanya impian, ekspektasi, keinginan dan bahkan cita-cita.
Semuanya harus dibiasakan, dari terbiasa menahan pengharapan yang tinggi hingga menahan emosi atas kebenaran yang ada dengan ini bisa di pastikan lalu lintas dan transaksi mengenai daya pikir hingga mood akan stabil tiap saat. Walau kerap menghabiskan waktu, ini bisa jadi saran bagi tiap orang sampai menemukan titik terang dari suatu hal yang dipertentangkan, umumnya ya kekecewaan dari kebenaran itu sendiri.
Aku dibuat mahir dalam hal ini tapi al-hasil aku selalu lupa bagaimana rasanya memiliki pengharapan yang tinggi, aku selalu lupa bagaimana besarnya perjuangan untuk pencapaian, aku lupa bagaimana sakitnya menenerima kekecewaan dari kebenaran yang ada. Aku selalu santai dalam meletakkan titik berat pengharapan itu, tidak setinggi langit seperti setinggi pencapaian yang aku cita-citakan tapi lebih sering setinggi bahu ku agar aku mudah saja mengambil pengharapan itu bila aku kecewa pada pencapaian yang ada.
Aku mudah saja dalam berharap tanpa aku mau benar keberhasilan itu adalah tujuan satu satunya dari suatu pengharapan walaupun di samping itu kekecewaan selalu menunggu untuk di cincang oleh si pemilik harapan. Aku selalu siap dengan dua kemungkinan yang ada dari kekecewaan & Keberhasilan. Dua-duanya aku siap dalam hati yang dalam (batin) dengan keadaan minimnya pengharapan untuk pencapaian.
-yang aku lakukan-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar