Senin, 25 Desember 2017

PE N G - H A R A P - A N

Terlihat saat problematika itu datang, sengketa kerap terjadi saat manusia hanya melihat dari sisi yang bila hanya menguntungkan dia saja. Mengenyampingkan kepentingan orang lain demi dan demi diri sendiri tanpa mau menerima secara ringan kepentingan orang lain tersebut. Apa salahnya kepentingan kepentingan itu berjalan sejajar untuk mencapai tujuan itu? ya walaupun pasti ada yang terabaikan.

Adakalanya situasi itu diluar dari yang di ekspektasikan dan juga lagi-lagi ini menimbulkan sengketa. Sengketa yang timbul karna terlalu banyak berharap dari perencanaan. tidak semua orang tau akan masa depan dari kesehatan hingga keuangan, dari cinta hingga daya jiwa. Semua memang belum jelas, semua memang hanya impian, ekspektasi, keinginan dan bahkan cita-cita.

Semuanya harus dibiasakan, dari terbiasa menahan pengharapan yang tinggi hingga menahan emosi atas kebenaran yang ada dengan ini bisa di pastikan lalu lintas dan transaksi mengenai daya pikir hingga mood akan stabil tiap saat. Walau kerap menghabiskan waktu, ini bisa jadi saran bagi tiap orang sampai menemukan titik terang dari suatu hal yang dipertentangkan, umumnya ya kekecewaan dari kebenaran itu sendiri. 

Aku dibuat mahir dalam hal ini tapi al-hasil aku selalu lupa bagaimana rasanya memiliki pengharapan yang tinggi, aku selalu lupa bagaimana besarnya perjuangan untuk pencapaian, aku lupa bagaimana sakitnya menenerima kekecewaan dari kebenaran yang ada. Aku selalu santai dalam meletakkan titik berat pengharapan itu, tidak setinggi langit seperti setinggi pencapaian yang aku cita-citakan tapi lebih sering setinggi bahu ku agar aku mudah saja mengambil pengharapan itu bila aku kecewa pada pencapaian yang ada. 

Aku mudah saja dalam berharap tanpa aku mau benar keberhasilan itu adalah tujuan satu satunya dari suatu pengharapan walaupun di samping itu kekecewaan selalu menunggu untuk di cincang oleh si pemilik harapan. Aku selalu siap dengan dua kemungkinan yang ada dari kekecewaan & Keberhasilan. Dua-duanya aku siap dalam hati yang dalam (batin) dengan keadaan minimnya pengharapan untuk pencapaian.

-yang aku lakukan-

Rabu, 20 Desember 2017

Budak-budak gak bah


Aku pernah bilang aku tak akan bertahan lama bersama mereka.

Setelah ku pikir-pikir aku cukup lemah saat itu untuk menghadapi sekumpulan batu bata yang berisi hal yang berbeda bahkan bertentangan satu sama lain.

Aku pernah bilang aku akan ada bersama mereka tapi tak akan lama.

Setelah aku berjelajah bersama mereka aku temukan hikmat dari tiap hembusan nafas yang ku rutinitaskan. Aku mendapatkan makna dari hal yang aku ricuhkan didalam pikiran.

Aku temukan mereka tanpa sengaja, aku berjelajah bersama mereka dengan paksaan dan dengan itu aku terbiasa. Aku terbiasa dengan hal-hal rumit bersama mereka, saat dimana harus ada yang menjadi air bila ada yang menjadi api, harus ada yang berfikir dan bekerja, harus ada yang menasehati ditengah kumpulan orang yang memaki.

Semua melengkapi tanpa sengaja, aku melengkapi mereka dan mereka melengkapi aku dengan tujuan yang aku pikir sama.

Aku selalu memberikan yang terburuk bila diantara mereka ada yang menyempurnakan, aku selalu memberikan hal yang baik jika mereka berfikir keadaan udah cukup buruk untuk di jalani.

Aku merasakan kesempurnaan (dalam gambaran kecil) saat dimana kami berjalan dan mengikuti proses hingga kami temukan hasil dari apa yang kami jalani.

Aku selalu berharap untuk tetap satu tapi harapan hanyalah harapan, bila tujuan kami semua berbeda hanya harapan Tuhan lah yang berkenan diantara kami, dari kisruh sampai pilu, menembak sampai tertembak, lari dan bertahan bahkan menangis dan bahagia.

Aku semakin sering berfikir bila bersama mereka. Berfikir kenapa aku tetap bertahan ? Kenapa aku harus ada ? Kenapa aku bersyukur karna mereka ? bagaimana ini bisa terjadi ? Dan bahkan kenapa aku menulis untuk mereka ?

Kulihat kesempurnaan pola diantara kami. Dimana kesempurnaan pola adalah hal yang tak dapat kami tahan, tak dapat kami bantah. Hadir dari Hati dan Tujuan dan bahakan mereka berkolaborasi menciptakan keyakinan dan kepercayaan satu sama lain.

Kami menyala, kami semakin dewasa, kami semakin egois dengan prinsip-prinsip anjing kami. Kami sadar dan kami lakukan. Kami berkembang, berkembang karna masalah dan kami mengabdi karna mengalah, mengalah dengan keadaan dan ego dalam diri.

Sebenarnya tak ada yang dapat menghalangi kami bila tak ada hati didalam kami. Tapi "Teman" berkata berbeda, aku punya #KAWANSAYANGKAWAN dan mereka punya versi mereka. Menyatu tak harus satu tujuan saja, berbeda cara pun juga sering kami lakukan bila aku bilang 3 + 2 = 5 maka salah satu diantara mereka mengatakan 4 + 1 = 5 dan seterusnya.

Pedih bila mau dituliskan dengan masalah demi masalah, aku hanya mengambarkan secara besar. Meneliti dan mengembangkan apa yang aku amati menerjemahkan dengan kalimat yang aku senangi bukan apa yang orang senangi.

Aku mengerti bagaimana cara menikmati kalian semua. Menelusuri jalan demi jalan untuk menemukan tujuan yang kuanggap sama. Aku belajar berkreasi bersama mereka dengan mengetahui dan memenuhi kebutuhan pasar yang ada.

Walau kadang tertindas. Aku belajar memikirkan keadaan dulu baru memikirkan ego. Ini terjadi karna teman, teman-teman yang terlalu mengabdi pada Persaudaraan & Kebersamaan karna kami difoto ini dilahirkan bersama.

-dia adalah aku yang lain.-

Uang.

  Kita pasti berfikir sama untuk ini,. Dan menjadi lebih penting ketika kita sadar satu sama lain disetiap sudut kota dan desa, rela mengha...